Postingan

Laut Peluh

Memulai, sang Baskara terbit indah dersik bayu mengalun mencipta fragmen merdu harian Aku siap, Aku siap! Tuk mencari asa, batinku Aku berjalan, huhh peluhku deras juga tapi kemana dia mengalir? Oh tidak! Ohh Tuhan! Dia bercecer di banyak jalan Oh tidak! Mengapa berbeda Orang-orang itu, berenang dalam laut keringatnya Aku? Akuu?? Aku harus diam! menampung peluh Aku ingin menikmatinya Aku menunggu,  tapi kenapa peluh tak berkunjung Ahhhh! Kenapa?! (Senin, 29 Mei 2023)

Bosan Sang Januari

Januari ini hujan jarang menemani entah mungkin bosan menyakiti dirinya sendiri Hai hujan! Kembali lah, aku rindu Maaf kau tersakiti tapi mari mulai kembali Hari-hari indah, bersama petrikor rindumu Bumi pertiwi, merindukanmu (29 Januari, 2023)

Fragmen Tiga Enam Lima

Aku ingin berkisah Saat itu, dunia berbahagia Fragmen indah dari tiga enam lima Bermula indah, amat indah kurasa Sampai akhirnya, Sang bhama menutup bagaskara Berlalu, haha Manusia-manusia Berucap pelu, namun tak mengelu Indah sekali, fragmen itu berwarna-warni Busuk sekali! (Awal tahun 2023) Manusia-manusia yang berucap seputar resolusi, amat indah bukan seseorang yang memiliki rencana?? Berkesan hebat, terstruktur, dan cerdas. Namun hanya omongan awal tahun, busuk sekali. Tahun ini seperti tahun lalu, begitu biasanya.

Tiga Enam Lima

Silam berlalu, tiga enam lima berpadu Memilin biangkala hari: Harsa, lara, rindu, kuyu. Terimakasih, kuucap. Semoga lebih baik (31 Desember 2022)

Bara

Hari haru hirap menyisa bara Satu, dua, tiga  pemantik menyala Mengepul asap asa dalam ribu abu Bersahutan menggapai langit, maka siapa yang lebih dulu? Persiapkan! waktu tak berbaik hati Kau menyesal, dia tidak peduli Berlalu, membisu, "Sampai jumpa," ucapnya. (Coy besok UAS [25/12/22])

Korelasi Haqiqi

Derap waktu, mahligai angan, dersik bayu nestapa berkorelasi dalam marcapada hidup nan berwarna, lagi keruh. Ku bertanya, "Kemana selanjutnya?" (Senin Lelah, 5 Desember 2022)

Juang Berkhianat?

Gambar
Bergerak, tiada tepi, terus bertransisi, tak berfikir: "Siapa yang kutinggal di belakang?" Ribuan bajingan, ribuan ambisi, puluhan realisasi tertinggal di belakang. Aku sang waktu, perebut ambisi-ambisi tak bena, walau bergandeng sesal. Maka pikirlah sendiri! Aku saksi bisu dari kau, impian, juang, harapan yang berlalu. Dan fantasi yang kau terap tak perlu berpikir, "Hah, ini mustahil karena aku siapa?" Tapi bertanyalah, "Aku selalu begini?" Juang, takkan sudi menyanding khianat sekalipun harsa mimpi tak terangan. Ia selalu berwujud, tak sudi hirap, dan kembali datang saat terpikir, "Ahh, ini pernah kulalui dulu." Karena,  waktu berderap membawa mahligai angan, bersanding dersik bayu nestapa, yang berkorelasi dalam marcapada hidup Maka, kemana selanjutnya? melangkah menuju asa, dengan juang. Tak perlu lelah, Ia, takkan berkhianat. (Hari Rabu Sesal, 30 November 2022)

Peluh Tak Berkeluh

Raih peluh, bukan keluh Kau melihat ke depan Disana terpampang harapan Itulah mereka, Pahlawan berpeluh, bukan berkeluh Kau berjalan, Penuh duri tapi ku disini Menyingkirkannya Kesah tersedan Bahagia terperan Menjadi pahlawan Agama, bangsa, negara. Lalu kusampaikan kepadamu, Nasihat sang penyampai merdeka: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.” (Pidato Ir. Soekarno Hari Pahlawan 10 November 1961) (10 November, Hari Pahlawan bangsa Indonesia, 2022)

Sipil Ber-asa

Lagi, lagi... Selaksa manusia tak bena Dalam sakit, mereka meraup kaya Menggoncang isi pertiwi Membena tahta surgawi Sana, sini tak mengerti Mengapa? Maka mereka dipertanyakan dengan seru Seolah mengalun: Haha duniaku, Sipil tiada guna! (Lonjak bbm 2022)

Aku Pun Tak Tahu

Aku bahkan tak tahu Kini ku menulis apa Ya, begitulah, malas yang menerpa Aku ingin terbiasa Dengan semua asa yang ku bena Menempa diri, membenah hati Oh, Tuhan, tolong aku Dari kekacauan kini