Postingan

Dialog Hujan Januari dan Juni (Sebuah Sambatan)

Ahad malam (12 Oktober 2025), jadi memorial yang tak akan mudah terlupa. Terhempasnya segala keresahan dan beban pikiran pasca terlaksananya event Light Festival , inisiasi terbesar KAMMI LIPIA pasca Covid-19. Untuk menyambatnya, aku memilih kembali mengingat puisi lama yang ditulis setahun lalu, sebab kemiripan kondisi yang terjadi. "Ajari Januari, Wahai Juni" dan "Sesal Juni Pada Januari" jadi 2 pilihan puisi yang kuangkat, keduanya pun bisa kamu temukan di Blog ini. Story WhatsApp jadi saksi hal itu pada Senin pagi (13 Oktober 2025). "Ajari Januari, Wahai Juni" Sapardi pernah mengisah, tentang tabahnya hujan Juni Begitu mencinta, rindu Sungguh arifnya cinta itu Tapi ada yang lebih tabah; rintik hujan di Januari Alurnya amat berat Berjuta tanah disambangi Ia berkata, "Apa ini perhentianku?" Wahai hujan Juni yang menanti, Ini pesanku, "Ajari rintik Januari memilih yang dicari Agar hujannya di Juni, mampu berkalibrasi" (22 Maret, 2024)...

Sesal Juni Pada Januari

Entah apa yang lebih membingungkan: Juni berhasil mengajarkan Januari, atau rintik yang tertahan pada keduanya. Januari bersorak. Juni menyesal, "Mengapa jadi begini?" "Siapa yang kan kurindu, jika episode mencinta tak dimulai?" Semarai Januari terus tersorak, hingga Juni datang dengan samak. Juni memaksa Januari, tuk kembali digurui. Juni berseru, tentang cinta yang menyasar kalbu. Ke mana Januari seharusnya merindu? (Rabu, 1 Januari 2025)

Sepoi Waris Budaya

Budaya asing masuk dengan halusnya, seakan sepoi menyertainya. Melangkaui celah ketakbenaran, beriring citra pemudar bangsa. Sukma taruna yang kian abai, kerana modernisasi yang terus membui, memenjara budaya yang kian terlampaui. Sang asing, terus mencitrai. Secercah harapan melestarinya budaya, akan wujud dengan iring juang jasa para taruna bangsa, yang kini masih teracuh pada waris budaya. (2020)

Petrikor Rindu

Mengendus sukma akan petrikor rindu Selepas titik hujan menyentuh buana Maka benar selaksa kata orang Tika hujan, rindu kan berada (16 April 2020)

Fawaid Nusus - Bagian (Harusnya 2) 1

Fawaid Nusus - Bagian (Harusnya 2) 1 Dr. Thahir hafizahullah (Jum'at, 23 Agustus 2024) - Part 1 Kembali bersama Dr. Thahir dalam pelajaran Teks-teks Sastra (النصوص الأدبية).  Sebelumnya, penamaan judul halaman ini berbeda dengan tulisan sebelumnya tentang Fonologi . Hal ini tidak lain karena dalam teks-teks sastra, faedah mudah sekali didapat. Bahkan, dalam beberapa pelajaran lebih banyak faedahnya dibanding dengan pelajaran tertulisnya. Kemudian soal kata "Harusnya 2" adalah karena memang tulisan ini ditulis dalam pertemuan ke-2 pelajaran teks-teks sastra. Teks Sastra Andalusia Semester 5 memang terjadwal untuk belajar teks sastra di masa Andalusia setelah sebelumnya telah tuntas pembelajaran tentang teks sastra di masa Jahiliah-Abbasiyah. Dr. Thahir menjelaskan dalam kesempatan ini tentang karakteristik dan keunggulan syair di masa Andalusia. Sebelum masuk 2 pembahasan tersebut, secara singkat mari temani saya berdiskusi tentang Andalusia yang hal ini dibahas dalam pert...

Belajar Fonologi - Bagian 1

Day-1 Belajar Fonologi - Dr. Thahir  hafizhahullah (Kamis, 22 Agustus 2024) Dr. Thahir hafizhahullah  kembali membersamai semester 5 saya di LIPIA Jakarta dengan mengajar 3 mata pelajaran; Fonologi, Teks-teks Sastra, dan Kritik Sastra. Kemarin sebenarnya bukan pertemuan pertama, tetapi ide untuk menulis hasil pembelajaran perkuliahan baru terpikir kemarin sore. Jadi, yasudahlah. 'Ilmu al-Aswaat (علم الأصوات) adalah nama lain dari fonologi dalam bahasa Arab. Fonologi adalah ilmu tentang perbendaharaan bunyi-bunyi (fonem) bahasa dan distribusinya (Wikipedia). Fonologi menjadi cabang dari pembelajaran linguistik (علم اللغة). Dr. Thahir menjelaskan bahwa fonologi membahas tentang tempat keluar (مخارج), sifat (صفات), dan distribusi bunyi (كيفية صدورها). Sebenarnya ada satu pembahasan lagi, yaitu fonologi akustik (علم الأصوات الفيزيائية), ia mempelajari bunyi sebagai fenomena alam berupa getaran di udara. Tapi ini tidak dipelajari sebab bukan takhassus di Jurusan Bahasa Arab, melai...

Abadi, Juang Komandan Kami

Terpisah Terpisah jauh Terpisah jauh, sungguh Sungguh Sungguh ia dekat Sungguh ia dekat, di hati Di hati Di hati ia bersemayam Di hati ia bersemayam, menumbuhkan yang baru Yang baru Yang baru pasti datang Yang baru pasti datang, dengan ghirah di dadanya Di dadanya Di dadanya tertanam Di dadanya tertanam, Islam sebagai asas perjuangan Jika menulis adalah untuk keabadian Maka dirinya tertulis di setiap gores perjuangan Abadi, juang komandan kami (Rabu, 31 Juli 2024) Pemimpin kami, Ismail Haniyya wafat dalam serangan yang tertuju padanya di Teheren, Iran. Semoga Allah meridainya.

Cukup-Cukuplah

Hidupmu, adalah untuk-Nya Maka siapkan dan lakukan Langkahmu itu, kuatkanlah Sabarmu itu, perteballah Syukurmu itu, rutinkanlah Allah pasti cukupi, semua bekal langkahmu Ia tak mungkin membebani di luar mampumu Allah pasti cukupi, lapang dada hatimu Sabarlah, Ia tak mungkin memberimu uji tanpa puji Allah pasti cukupi, semua butuhmu Syukurilah, Ia kan tambah di atas harapmu Cukup-cukuplah Cukup-cukuplah Cukup-cukuplah Semua indah, bersama-Nya Rabu, 17 Juli 2024 #LiterasiSobsol #QolamunaBercerita

Berjumpa, Walau Tak Suka

Satu perasaan, yang selalu mengikat manusia Ia menjadi pembuka mimpi-mimpi baru Hadir sebagai penghitung cermat sebuah langkah Tak banyak disukai, namun selalu dijumpai Ia sesal Sungguh peduli dirinya Langkah-langkah ini, memiliki arti berkatnya Mimpi-mimpi ini, menjadi indah sebabnya Ia rela berjumpa, meski tak disuka #QolamunaBercerita #LiterasiSobsol (Jum'at, 5 Juli 2024)

Membiasakan Sulit

Membiasakan Sulit Di taman Jakarta, pekan lalu, Aku melihat seorang anak kecil sedang berlatih berjalan. Tertatih-tatih ia berusaha, terlihat begitu sulit. Ibunya sabar membimbingnya. Setiap sore, Aku memang selalu menyempatkan diri ke taman. Indah sekali melihat barisan pohon di tengah padat Jakarta. Dan hari ini, Ku kembali melihat anak itu. Ia sudah lancar berjalan. Ternyata, sulitnya berhasil ia atasi. Pekan berikutnya, anak itu bisa berlari. Sesekali terjatuh, tapi ia tetap bangkit. Mungkin besok-besok, ia sudah bisa mengendarai sepeda, bahkan motor. Aku kemudian menyadari, bahwa sulitku kini hanya karena tidak terbiasa. Ternyata, kemudahan yang kurasakan sekarang adalah kesulitan yang pernah terjadi sebelumnya. Karena bagaimana Aku tahu arti kemudahan jika tak mengenal arti sulit? (Kamis, 4 Juli 2024) #QolamunaBercerita #LiterasiSobsol