Postingan

Rekaman 5 Malam

Satu, semua bersiap jasad menyeru harap Dua, semua bergegas tumbuh berdasar asas Tiga, larut kalut menjauh selimut bermalam, semua terkerut Empat, alah bisa karena biasa semua nir sia-sia Lima, adorasi mengandung visi semua isi harap implementasi *** Tuhanku Di pintumu aku mengetuk Aku tidak bisa berpaling M. Haikal Lukmanulhakim  (Ahad, 30 Juni 2024)

Inti Kesah

Inti Kesah Dengan masalah semua mudah Ia inti indah dari kesah Masalah Susah Kesah Pecah Mudah Hilanglah amarah (Senin, 24 Juni 2024)

Puisi Nasi Goreng

Lapar Puisi nasi goreng mengingatkanku Aroma nasi goreng di pertigaan Sepulang dari sini Semoga tidak ada puisi lain Aku ingin nasi itu, dinikmati semestinya 28 April 2024

Berlayar Semestinya

"Mari berlayar," pikirnya "Manusia bodoh," timpalku Palka kapal sudah penuh Banyak yang ingin tersampai Tapi hati bodoh, ingin selalu cepat "Hei, kita masih di tanah," kesalku Kau perlu laut untuk berlayar Mari berlayar, ketika kita di tepinya 28 April, 2024

Semoga Sampai

 Pagi          Siang Sore          Malam Ritme harian Ding         Dong Apa kabar? Semoga sampai

Ajari Januari, Wahai Juni

Sapardi pernah mengisah tentang tabahnya hujan Juni begitu mencinta, rindu sungguh arifnya cinta itu Tapi ada yang lebih tabah rintik hujan di Januari alurnya amat berat berjuta tanah disambangi ia berkata,  "apa ini perhentianku?" Wahai hujan Juni yang menanti ini pesanku, ajari rintik Januari memilih yang dicari agar hujannya di Juni, mampu berkalibrasi (22 Maret, 2024)

Keluh Ini Asa-nya

Keluh ini asa-nya Duhai hati kau kerdil, sempit, mana bena-mu? Keluh ini asa-nya Duhai diri kau diam, malas mana sikap-mu? Keluh ini asa-nya Ya, asa mereka Keluhmu diatas piring penuh Berisik perut derita mereka Apa pantas? Keluhmu diatas meja berbuku Abu suhuf derita mereka Apa pantas? Keluhmu di bawah gelora cakrawala Hujan rindu derita mereka Apa pantas? Tidak,  sungguh tak pantas Bangunlah, bergerak, Palestina saudara kita (31 Oktober 2023)

Taman Akan Melihatku, Selalu

Taman itu indah, entah tidak seperti biasanya Kali ini, lebih indah Pancarona bunga, hijau buana, segar udara, terasa istimewa, seperti biasa aku menikmatinya Namun apa dikata, hati tak seperti mata Hati melihat, mata tidak Oh, aduhai, sosok berbaju hitam Taman ini lebih tenang, ada kedamaian dalam matanya Oh, aduhai, hati yang menggeram Berdetak melintang, ada hasrat di dalamnya Oh, Tuhan, izinkanku mengenalnya dan sepertinya, taman akan selalu melihatku, Minggu sampai Sabtu, esok hari, Tuhan (Taman di Jakarta, 29 Juli 2023)

Mengapa di Sini?

Ribu masa, juta harap Mengapa di sini? Keping saru, perlahan menguak Raga lesu, raga baru,  bergerak Sedang cakrabuana menggelak, terbahak, bersaksi dengan sungguh "Kau kulahirkan untuk ini, kenapa terus bertanya?" (Selasa, 25 Juli 2023)

Semesta Cinta

Tak pernah terangan sebelumnya Kejadian akbar nan tak dibena Pandang tiada hirau menjadi mula Sembilu saru menancap tak dirasa Ledakan yang membuncah kalbu Membentuk semesta cinta yang tak tentu Berawal kasih yang tertuju Kepada Sukma yang tersaru Hatta, sukma tak reti tuk merindu Rindu dari hati yang menyendu Mencipta lubang, melekap semu Meluruh hati tika temu (Penulisan pertama: 15 April 2020) (Penulisan ulang dan revisi: 24 Juli 2023)